Rss Feed
  1. Resume Materi Grup Rumah Main Anak
    Hari, Tanggal : Jumat, 18 September 2015

    Pemateri : Judith Elfaj
    Peresume : Julia Sarah, S.Hum

    Perkembangan sosial adalah proses kemampuan belajar dan tingkah laku yang berhubungan dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari kelompoknya. Di dalam perkembangan sosial, anak dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial (kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan) di mana mereka berada.

    Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam hubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Saat berhubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupan anak yang dapat membentuk kepribadiannya, dan membentuk perkembangannya menjadi manusia yang sempurna. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang anak dalam lingkungan sosialnya sangat dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Perkembangan emosi seorang anak itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terdekatnya. Maka, sangatlah bijak apabila kita berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membantu perkembangan emosi anak.

    Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Prasekolah
    - menerima tanggung jawab sesuai usia dan perannya
    - enjoy dengan pengalamannya
    - menyelesaikan masalah dengan segera
    - membuat keputusan dengan resiko konflik yang minimum
    - tetap pada pilihannya, sampai menyadari bahwa pilihannya itu salah
    - merasa puas dengan kenyataan
    - mampu menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak
    - dapat berkata tidak pada situasi yang mengganggunya
    - dapat berkata ya pada situasi yang membantunya
    - dapat menunjukkan kemarahan secara tepat
    - dapat menunjukkan kasih sayang
    - dapat menahan rasa sakit dan frustrasi
    - mampu berkompromi
    - mampu mengkonsentrasikan energi pada tujuan
    - mampu menerima dirinya

    Bagaimana menyikapi ananda?
    Pada periode ini, anak akan belajar menghadapi emosi ketika maksudnya diterima atau ditolak (learning initiative vs guilt).

    Usia 3-6 tahun, merupakan masa bermain untuk anak. Saat ia bermain, secara naluri kadang anak berinisiatif untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Di saat ia berinisiatif inilah, ia akan belajar apakah lingkungan akan menanggapinya dengan baik, atau malah mengabaikan.

    Jika sambutan baik yang ia terima, maka anak akan belajar 3 hal, yaitu:
    - Mampu berimajinasi, mengembangkan ketrampilan melalui bermain aktif, termasuk berfantasi.
    - Mampu bekerjasama bersama teman.
    - Mampu menjadi “pemimpin” dalam permainan, seperti ia menjadi "pengikut” permainan.

    Sebaliknya, ketika inisiatifnya selalu ditolak, maka anak akan selalu merasa takut, sangat bergantung pada kelompok, dan tidak berani untuk mengembangkan pikirannya.

    Demikian yang bisa sampaikan pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat dan dapat kita kembangkan lagi dalam diskusi.

    Salam hangat,
    Juditha Elfaj

    Tanya Jawab:
    1. Aslm. mba judith,sulung saya awalnya menurut saya emosinya berkembang sangat baik.mudah di ajak bicara,jarang bahkan tidak pernah tantrum.namun ketika perhatian saya terbagi,saya buka kelas bermain untuk anak anak seusianya dengan harapan saya bisa mengedukasi ibu2 disekitar saya untuk menemani anak2 bermain dan agar anak saya lebih intens dan terarah untuk bersosialisasi,dan juga u memnuhi keinginannya sekolah seperti anak2 lainnya (abis ketika saya bikin mainan n main sama anak saya,anak yang lain ikutan dan akhirnya munculah ide untuk buka kelas main.jadi bikin sekolah sendiri gituh.hehe),anak saya malah sering 'protes' (kalo saya boleh bahasakan).protesnya dg cara tidak mau ikutan main padahal jika sendirian inshaa Allah mau melakukan permainan.pake acara nangis segala.sebentar2 nangis.ga mau main...saya coba sounding bahwa sekarang temannya banyak,umi jadi guru,kakak dan kawan2 jadi murid.jadi murid umi sekarang banyak.boleh ya kita main sama???alhasil besoknya terlihat sudah paham.hanya saja,ketika bermain lagi,karena yang lain ditemani ibunya sedang saya mencoba membagi perhatian tidak melulu menemaninya di kelas,yaitu protes,nangis lagi gamau main lagi...nah jika seperti ini saya harus bagaimana ya mba???saya tutup kelasnya (karena ternyata memang urus bocil ga bisa disambi)???saya sounding lagi dan lagi???atau bagaimana menurut mba judith???makasih ya mba (Puji,tangerang, 3y3m,RMA1)
      Jawab:
      Barokallahu fiikum atas berdirinya kelas bermain di rumah. Semoga menambah keberkahan dan memberi manfaat bagi sekitar. Senang ya mba skrg bisa tambah menebar manfaat bagi lingkungan. Tentunya bukan hal yang mudah ya buat si sulung atas perubahan yang terjadi di rumah. Yang biasa mendapatkan perhatian penuh dr ummi, kini byk orang lain yg jg diperhatikan ummi. Perasaan belum bs menerima perubahan di rumah adalah ungkapan emosi yg spontan atau luapan dlm hatinya. Kita memang tdk bs menafikan itu. Tapi tangis dan protesnya ada strateginya utk merebut perhatian penuh dari ummi. Tdk selalu hrs ditanggapi. Biarkan dia luapkan (pastikan dlm sikon yg aman), kemudian ajak ananda berdiskusi stlh emosinya reda. Bantu ia mengenali perasaan, dengarkan kesahnya, dan jangan lupa selalu pastikan bhw cintaku padamu tak kan berubah (halah..). Sampaikan dan ekspresikan terus bahwa: perubahan yg terjadi di rumah tdk mengubah cinta ummi pada ananda. "Ummi selalu sayang kakak.. Kakak tak perlu ngambek jika byk orang juga mau belajar bersama di rumah. Sampaikan dengan baik ke ummi kalau kakak ingin sesuatu.." Di luar jam operasi kelas bermain, mgkn mb puji jg perlu tetap menyediakan quality time berduaan dg si sulung utk memastikan hatinya bhw ummi still yours.  Mungkin memang perlu waktu yang tdk singkat utk menguatkan penerimaan ananda. Mungkin juga harus berulang2 kita menguatkan hatinya. Di sinilah peran kita sbg orangtua. Tak lupa selalu iringi dg doa pada Allah yg menggenggam hati manusia. Kalau saya, waktu sblm tidur atau kelonan adalah saat yang kondusif utk ngobrol dr hati ke hati. Apa yg saya harapkan dr anak, apa yg anak inginkan dr saya. Semoga mb puji selalu diberikan kesabaran meneguhkan hati si sulung. Semoga kelas bermain dpt terus memberi manfaat dan si sulung sgt yakin bhw walau bagaimanapun ummi still love you very much deh 
    2. Terima kasih untuk kesempatan nambah ilmunya bunda. Pertanyaan saya mengenai mengajarkan anak untuk mengenal emosinya. Metode apa ya baiknya yg kita berikan kpd anak untuk belajar mengenal emosinya? Sehingga dlm kehidupan sehari2, anak terbiasa mengungkapkan apa yg ia rasakan. Minimal mungkin untuk emosi dasar (senang..marah..takut). Biasanya kalo ada yg kurang berkenan..anak nangiiiiss saja tapi tdk mampu bercerita ttg apa yg ia rasakan. (Studi kasusnya mungkin untuk AUD usia 4-6thn). Terima kasih bunda.. (Tien Asmara-Parepare-Mujahidah Ilma Nafiah,14m-RMA3
      Jawab:
      Salam, Bunda Tien Asmara. Perkembangan suatu aspek (dalam ini sosio-emosi) merupakan pengaruh perkembangan aspek lainnya. Misalnya, kemampuan seorang anak mengungkapkan perasaannya jg dipengaruhi kemampuan bahasa dan kognitifnya. Untuk itu, dlm membantu mengenali emosi anak, dapat dilakukan dengan cara mengajarkan anak untuk memahami perasaan-perasaan yang dialaminya. Orang tua ataupun guru dapat mengajak anak untuk mendiskusikan mengenai berbagai emosi yang dirasakan berdasarkan pengalamannya. Misalnya, usai ananda menangis (sudah reda) tanyakan apa yang membuatnya menangis. Apakah itu namanya sedih, kaget, marah, dsb. Beberapa aktivitas yang dapat membantu ananda mengungkapkan perasaannya adalah lewat dongeng atau story telling, bermain peran dengan beragam setting tempat dan situasi, mengarahkan emosi anak dengan karya seni (lukisan, gambar, syair, dll) lalu memintanya menceritakan makna karyanya, dll. 
    3. Salam kenal mbak Juditha.. Anak saya ghaly memiliki tingkat kreativitas dan imajinasi yg menurut saya tinggi. Banyak benda-benda yang bisa digambar dan mirip dengan aslinya. Kertas pun bisa dia bikin menjadi mirip dompet, kipas, dll sesuai dengan yg dia liat walaupun belum begitu sempurna. Namun entah terkait atau tidak, imajinasinya ini juga pada caranya bertutur. Kadang dia bilang, ibu saya tadi liat tentara saya dan boboboy tembak dia.. tentaranya jatuh dan mati. Menurut bunda ini masih wajar atau bagaimana?
      (Nelly-Makassar-Ghaly 5y-RMA3)
      Jawab:
      Salam kenal juga utk Bunda Nelly. Masya Allah, sepertinya ananda Ghaly adalah anak yang cerdas dan kreatif ya. Setiap anak yang terlahir hadir tanpa membawa pemikiran apapun. Apa yang dia dengar dan lihat kemudian diserap dan membentuk pemikirannya. Itulah sebabnya mengapa nuansa di sekitar anak (keluarga, gadget, lingkungan) perlu dikondisikan dengan baik guna mendukung tumbuh kembangnya. Bunda bisa terus mengeksplor imajinasinya dengan mendengar ceritanya, bagaimana hal itu bs terjadi, bertanya ananda tau hal itu dari mana, dsb. Hal ini dapat merangsang daya pikirnya, perkembangan bahasanya (bercerita), dsb. Sy rasa pertanyaan td masih wajar krn mungkin dia msh terpengaruh dg boboboy yg sdh dia tonton. Pada anak usia dini, mereka blm bisa berpikir logis dan masih bersifat konkrit saja. Sehingga sulit baginya membedakan hal yang nyata dan hayal.
    4. Assalamualaikum, tanya mba.. anak sulung saya ghazi 4y5m.. saat ini sering sekali 'overacting' mencari perhatian ummu atau abi nya dengan cara mengganggu adiknya 3y4m, panjat panjat lemari dan berbagai aktivitas lain yg terkadang membahayakan dirinya atau adiknya.. tapi kalau ditegur atau dinasehati, pasti ngelawan mba.. dan mengutarakan kata-kata yang tidak pantas disampaikan seperti 'lemparin aja mainannya', 'terserah aku aja' atau 'biarin aja biar uminya mati'..karakter anaknya keras, gimana ya mba mengatasinya? Saya sudah pusing, terlebih saat ini saya sedang hamil anak ke3 dan usia kandungan jalan 8bln..
      (Fitriatiningsih-Belitung-Ghazi 4y5m-RMA3)
      Jawab:
      Wa'alaykumussalam mb Fitrianingsih. Salam sayang utk ananda Ghazy. Anak pada usia prasekolah ini kerap menguji konsistensi kita dalam berbagai hal. Atau berstrategi guna mendapatkan perhatian penuh dari orang di sekitarnya. Semoga Allah melimpahkan banyak kesabaran bagi ayah bundanya ya. Kadang aksi si sulung tdk harus selalu ditanggapi. Hal ini guna menunjukkan kepadanya bahwa ia tdk akan mendapat perhatian jika melakukan hal yg buruk. Cuekin aja (selama aksinya tdk membahayakan ya). Perbanyak doa ketika darah kita dibuat mendidih ya Bun. Tolong tahaaan jgn sampai mengeluarkan label yg buruk. Minta banyak2 pertolongan Allah. Setelah reda, baru kita minta dia mengungkapkan perasaannya (terlebih dahulu) baru kita nasehati. Sering2 ungkapkan rasa cinta kita padanya. Jgn sampai ia merasa rasa cinta kita berkurang krn ada adik atau perangainya. Misalnya sampaikan "Bunda sayang sekali pada kakak. Tp bunda tidak suka kakak berkata buruk..". He still beloved unconditionally. Yg tdk bundanya suka hanya perilaku atau kata2 buruknya saja. Atau ketika kondisinya sedang tenang, sering ungkapkan lagi rasa cinta kita sambil memeluk atau mencium pipinya. Kalau sy, biasanya saat menjelang bobo, sy dan sulung sy saling menyampaikan apa yg sy harapkan darinya dan apa yg dia harapkan dr saya. Batu yang keras dapat luluh dg tetesan air. Doa yang tulus dan kasih sayang yang deras insya Allah dpt menjadi penawar baginya dr berlaku buruk utk menarik perhatian. Wallahu a'lam
    5. Hai mba Judith, salam kenal  Saya Ning, ingin menanyakan bagaimana kami sebagai ortu dalam menyikapi dan memberi pengertian yang tepat kepada si sulung 6 tahun. Beberapa kali ketika mengalami "konflik" dengan teman di sekolah, biasanya sering jadi "uring-uringan" dan badmood sepanjang hari. Ayah, bunda maupun adiknya sering jadi sasaran "omelannya". Yang ingin ditanyakan:
      - Bagaimana mengatasi dan membantu anak dalam mengelola emosinya?
      - Cara yang tepat dalam memberi pengertian tanpa menyalahkan temannya
      Terima kasih mba Judith  (Ning,Jakarta,6 tahun,RMA 2)
      Jawab:
      Salam, Mba Ning. Emosi adalah luapan emosi yang spontan sebagai respon atas sosialisasi seseorang terhadap lingkungannya. Kita ga bisa kontrol itu ya dari perasaan ananda. Tp kita bs berusaha utk memfasilitasinya mengungkapkan emosinya agar tidak menjadi "sampah" di hati, pikiran, tangan, dan lisannya. Saat santai berduaan, bisa jd momen yg asik utk berdiskusi dan menyediakan diri sebagai kantong penampung emosinya. Mendengarkan ceritanya, mengajaknya mengenali perasaannya, merumuskan masalah dan solusinya. Atau jika ananda bukan tipe yang bisa diajak "bocor", bisa juga mengajaknya mengekspresikan perasaanya dengan lukisan atau gambar, syair atau kata-kata, dll. Jgn lupa utk selalu mendedukasikan setiap perasaan hati kita pada Allah. Karena hanya Dia yg menggenggam setiap hati manusia dan hanya kepadaNya tempat kembali.
      Momen menanamkan nilai-nilai pada diskusi dg ananda (sedang tenang) inj, kita tdk sdg menjudge person. Tp kita sedang mengenali jenis perilaku dan norma yang semestinya yang Allah ridhai.
    6. Assalamualaikum.. Mba juditha saya mau bertanya.. bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri pada anak? dan bagaimana mengajarkan anak agar mau berbagi dengan teman atw adiknya? Terimakasih (Aprida, sulthan keandre (4y), balikpapan, RMA 2)
      Jawab:
      Wa'alaykumussalam, mb Aprida.
      Setidaknya ada beberapa hal yg bs kita lakukan utk membangun rasa PD anak :
      ☆ Bentuk konsep diri yg jelas pada anak. Utk yg muslim, kita bs tanamkan bhw anak sholih/at itu kuat dan pemberani, disayang Allah juga penduduk langit dan bumi, selalu dijaga Allah, dsb. Nah, pede ini baru bisa tumbuh ketika anak paham konsep dirinya spt apa
      ☆ Bermain peran di rumah. Misal main tea party, tamu2an, main dagang2an, polisi2an, sekolah2an, dsb.
      ☆ Bantu anak mengenali kelebihannya dan hal apa saja yang membuatnya begitu berharga
      ☆ Tak perlu paksa untuk tampil bagi ananda yang pemalu. Tapi, beri apresiasi setiap usaha dan progres keberaniannya sekecil apapun.

      Sebelum mengajarkan anak tentang konsep berbagi, sebaiknya ananda dipahamkan dulu tentang konsep kepemilikan. Pada anak usia prasekolah, egosentris mereka sangat kuat. Maka, bisa kita pahami bagaimana sulitnya berbagi atau memberikan sesuatu yang ia suka pada orang lain. Sama lah ya kadang sama kita yang sdh dewasa, berat bgt utk berbagi hati dengan wanita lain (halah.. jd kemana2. Maap ya ) Mksd saya begini, dengan konsep kepemilikan, anak jd mengerti mana yang milik dia dan mana yang milik orang lain. Dengan konsep ini pula, anak jd mengenal hak utk mempertahankan apa yg jadi miliknya dan kewajiban utk meminta izin ketika kita menggunakan sesuatu milik orang lain. Selain itu, ananda jd belajar menerima keadaan dimana permohonan izin kita utk menggunakan sesuatu milik orang lain bisa diizinkan atau bisa jg tdk diizinkan. Sedangkan utk berbagi dalam bingkai charity atau sedekah kpd mereka yg membutuhkan, maka itu menjadi bab lain.
    7. Mba Judith, dr materi yg disampaikan terlihat bahwa lingkungan punya peran yg sangat besar dalam perkembangan sosial-emosional anak. Makanya kita disuruh menciptakan lingkungan yg bijak. Nah kalo lingkungan sekitar rumah kurang kondusif, kira2 baiknya bagaimana? dikatakan kurang kondusif Misalnya kalo anak pulang main dia pulang bawa kata2 yg tidak pantas atau perilaku yg tidak baik seperti memukul,meludah dsb. tks penjelasannya.(Anis_2y7m_depok_RMA 2)
      Jawab:
      Salam, mb Anis.
      Anak usia dini blm bisa berpikir dengan logis dan membedakan yang benar&salah. Tp ia sedang mengalami lonjakan perkembangan bahasa, kognitif, dsb. Ia mudah sekali menyerap kosakata baru, meniru perilaku di sekitarnya, dll. Inilah sebabnya lingkungan menjadi hal yg sgt penting untuk dikondisikan guna mendukung penguatan karakter positif pada anak. Di sisi lain, anak masih diliputi fitrahNya yang suci. Adalah tugas kedua orangtuanya untuk menjaga fitrah ini. Sebisa mungkin ciptakan lingkungan yang kondusif minimal di lingk keluarga. Sekalipun kita tdk bs hindari pengaruh buruk dr luaran, semoga Allah mengaruniakan banyak kesabaran pada kita sbg orangtua dalam hapus-tulis ya. Mksdnya, dalam menghapus "polusi" lingkungan pada jiwa anak dan menuliskan kebaikan di atasnya. Karena anak mudah sekali terpengaruh lingkungan sekitarnya, jadi main kuat-kuatan deh. Yuk kuatkan pengaruh positif dan menekan pengaruh yang buruk. Utk kata2 dan perilaku buruk dr luar, biasanya anak melakukan hal itu untuk mencari perhatian. Sulung sy pun sekarang suka begitu. Karena pengaruh candaan dengan teman2nya, dia suka menyebut kata "ketek" (punteun). Mgkn tidak ada mksd buruk. Dia hanya suka melihat orang2 tertawa ketika dia menyebut kata itu. Tiba-tiba dia bisa jadi perhatian yang menghibur byk orang. Itu saja. Maka, biasanya suka sy cuekin. Biarkan saja. Muka datar. Saya ingin dia tau bahwa cara spt itu tdk akan mendapat perhatian dr saya. Tapi ketika kondisinya sdg tenang, br sy ajak diskusi ttg apa sih arti kosakata baru itu, mksdnya apa, baiknya bagaimana, dsb. Intinya, pada periode emas di usia dini ini, kita sedang membangun pondasi yg kokoh pada jiwa anak. Sehingga kelak ketika ia semakin dewasa dan bertebaran di muka bumi, kekhawatiran akan pengaruh luar tdk lg begitu merisaukan hati insya Allah.

  2. 0 komentar:

    Posting Komentar