Rss Feed
  1. Resume Materi Grup Rumah Maîn Anak
    Rabu, 5 Agustus 2015

    Pemateri: Chairunnisa Rizkiah, S.Psi
    Pemandu dîskûsî : Nur Isnaini

    Dalam perkembangan manusia, ketiga aspek motorik, kognitif, dan psikososial saling berkaitan. Seperti yang sudah saya sampaikan di materi perkembangan motorik dan kognitif, penguasaan keterampilan baru membuat anak lebih percaya diri untuk ‘berpetualang’ di lingkungan yang lebih luas dan beragam serta mengembangkan kemandiriannya. Untuk tema perkembangan psikososial anak usia 2-4 tahun, saya ingin membahas beberapa topik, yaitu perkembangan emosi dan keterampilan sosial, bermain, dan kemandirian.

    1. Perkembangan emosi dan keterampilan sosial 

    Seiring perkembangan kemampuan berpikir dan berbahasa, anak mulai mengenali emosi-emosi dasar, yaitu senang, sedih, takut, kaget, marah, dan jijik. Emosi yang ditunjukkan oleh orang lain lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kata-kata juga ditangkap oleh anak dan menjadi semacam ‘petunjuk’ untuk bertingkah laku. Contohnya, saat melihat anak lain menangis, ada anak yang mengusap-usap tangan anak itu sambil berkata, “Jangan sedih, jangan nangis.” Anak juga tahu kalau orangtuanya marah karena orangtua bicara dengan suara keras, intonasi (nada suara) tinggi, dan ekspresi wajah cemberut. Atau, setelah pulang liburan anak bercerita ke gurunya, “Aku senang banget kemarin jalan-jalan ke Taman Safari.”

    Kemampuan anak untuk mengenali emosinya sendiri dan emosi orang lain merupakan keterampilan sosial. Anak jadi mengerti apa yang sedang ia rasakan, dan bisa mengerti perasaan orang lain. Tentu masih dengan pemahaman yang sederhana. Murid-murid saya di usia 3-4 tahun sudah bisa diajak berdiskusi tentang “orang yang tidak punya rumah” dan “orang yang tidak punya makanan”. Jawaban mereka, rasanya ga enak, kan nanti kelaperan, kan kasihan, kalau ga punya rumah sedih ya, kalau punya rumah senang ya karena ga kehujanan. Istilah “empati” yang sering kita dengar kalau membicarakan perkembangan psikososial anak, awalnya dari pengenalan emosi. Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, sehingga anak juga memahami sikap seperti apa yang perlu ia tunjukkan.

    Jenis-jenis emosi tadi, dibutuhkan oleh anak. Sebagai orangtua tentunya ingin anak selalu senang ya, namun emosi-emosi lain juga punya peran masing-masing. Di usia 1-2 tahun, anak sudah mulai mengenal emosi takut bila bertemu orang asing atau masuk ke lingkungan baru. Kalau ditinggal oleh orangtua atau sosok lain yang dekat dengan anak, anak menunjukkan ekpresi wajah sedih sendu atau menangis. Sebagian anak juga merasa jijik bila memegang benda asing yang lengket atau memakan makanan yang rasanya aneh. Kalau anak ditinggal oleh orangtua atau sosok Emosi jijik ini menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang ‘beracun’ atau berbahaya. Maafin ya Bun kalau makanannya dilepeh karena rasanya aneh ^^” *P.S. saya baru nonton film Inside Out. Bagus deh, tentang perkembangan emosi anak*

    Ada pula emosi yang lebih kompleks seperti rasa malu, menyesal/merasa bersalah, iri, dan bangga. Emosi-emosi ini disebut self-conscious emotions (emosi sadar-diri). Emosi-emosi ini membuat anak menilai dirinya. Anak mengenal emosi-emosi tersebut dari interaksi dengan orang lain. Anak merasa bangga bila berhasil atau dipuji, menyesal kalau ia tahu sudah menyakiti orang lain, malu kalau gagal atau melakukan kesalahan, dan iri bila melihat orang lain lebih baik. Emosi mana yang lebih berkembang dalam diri anak, sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

    Pemahaman terhadap emosi memungkinkan anak untuk melakukan regulasi (mengatur) emosinya. Mulai usia 2 tahun atau saat anak sudah bisa bicara, anak bercerita tentang perasaannya. Contohnya, “Aku ga suka kalau mama marah-marah.” (Nah loh…) Strategi lain yang diterapkan anak di antaranya berusaha memblokir rangsangan sensori yang masuk, misalnya menutup telinga atau matanya, berbicara sendiri (“gapapa kok, gapapa, kan nanti di rumah ketemu mama lagi”), atau melakukan kegiatan lain yang dapat membuat anak melupakan emosi negatif yang dirasakannya. Untuk belajar mengatur emosi, strategi-strategi tersebut sangat banyak dipelajari anak dari orangtua. Misalnya, kalau orangtua marah-marah sambil memukul meja, sangat mungkin anak menirunya. Sebaliknya, kalau anak mengekspresikan emosi marah dengan memukul atau melempar barang, lalu orangtua mengajarinya (dengan sabar dan konsisten) untuk sabar dan bicara baik-baik, anak juga belajar bahwa ada cara lain selain marah-marah.

    2. Bermain
    Bermain adalah urusan yang sangat serius bagi anak-anak, hehe…Awalnya anak bermain sendiri (solitary play), lalu mulai bermain sendiri tapi dengan ada anak lain di tempat yang sama (parallel play), kemudian bermain bersama anak lain (collaborative play), baik anak yang sebaya, lebih tua, atau lebih muda. Bermain bersama dapat mengembangkan keterampilan sosial di antaranya kemampuan untuk berbagi, menunggu giliran, menyampaikan keinginan kepada orang lain, dan melakukan percakapan.

    Kegiatan bermain, selain untuk stimulasi perkembangan motorik dan kognitif, juga mengenalkan anak pada aturan. Anak usia 3-4 tahun sudah bisa bermain permainan bersama yang memiliki aturan, seperti ular naga (semua anak harus lewat ‘terowongan’), halang-rintang (harus melewati rintangan dengan cara tertentu), bermain pura-pura (siapa berperan jadi siapa, siapa yang bertugas memegang peralatan apa), dan permainan lainnya. Jadi, saat anak bermain dengan orangtua atau kakak yang jauh lebih tua pun, orangtua tidak perlu selalu mengalah ya :D Saat anak bermain dengan anak yang lebih kecil pun, anak perlu dibiasakan untuk tidak ‘sewenang-wenang’ mengambil atau merebut barang hanya karena ia lebih besar. Hal ini juga dapat membiasakan anak untuk mengenal fair play dan sikap menghormati orang lain sejak kecil.

    Tentang bermain, saya tidak bahas terlalu banyak karena ini sudah jadi makanan sehari-hari grup Rumah Main Anak, hehe. Untuk anak usia 2-4 tahun, anak pada umumnya lebih berminat berinteraksi dengan anak lain, sebab lingkungannya juga sudah bertambah luas (tetangga, sepupu, teman di playgroup atau daycare, dan lain-lain). Bila diperlukan, misalnya kalau anak termasuk anak yang butuh waktu untuk dekat dengan orang baru, permainan yang sifatnya kolaboratif (bersama) dapat diarahkan dulu oleh orang tua. Yang pasti, setiap anak memiliki karakteristik yang unik. Tetap sabar dan dampingi anak untuk merasa nyaman dan yakin bahwa ia baik-baik saja di zona bermain itu.

    3. Kemandirian
    Sebenarnya poin ini juga sudah pernah saya bahas di tema-tema sebelumnya. Kemandirian dibentuk secara bertahap, dan tentunya sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Contohnya, anak usia 2 tahun akan sangat sulit untuk memasang kancing baju sendiri karena keterampilan motorik halusnya belum memadai. Namun menjelang usia 4 tahun, mereka sudah jauh lebih terampil. Mungkin kita juga bisa review lagi tahapan perkembangan motorik dan kognitif anak usia 2-4 tahun ya…
    Dalam mendampingi anak untuk membentuk kemandirian, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:
    1. Tentukan target dan bagi menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Misalnya memakai dan membuka sepatu sendiri. Awalnya bisa dicoba dengan sepatu yang mudah dibuka (tanpa tali atau Velcro). Tidak lupa, ajari anak untuk meletakkan sepatu dengan rapi di tempat yang tepat (rak sepatu, loker, atau tempat khusus sepatu)
    2. Anak diberi contoh (dengan peragaan dan bisa juga dibantu gambar) dan diarahkan secara verbal. Di awal, anak mungkin perlu contoh dan dibantu lebih dari satu kali. Lama-kelamaan, anak bisa dipantau saja dari dekat tapi hanya perlu diingatkan cara melakukannya secara verbal
    3. Prioritaskan keterampilan-keterampilan yang dalam waktu dekat sangat diperlukan anak dan akan sering digunakan. Untuk usia 2-4 tahun, contohnya toileting, makan sendiri, dan membawa barang miliknya sendiri (yang tidak terlalu berat). Memakai baju dan sepatu, tahapannya cukup banyak. Di usia 4-5 tahun pun baru benar-benar bisa dilakukan secara mandiri.
    4. Hargai setiap usaha anak. Kalau belum berhasil saat ini, tetap semangati anak dan yakinkan bahwa ‘kegagalan’ itu tidak membuat anak jadi ‘jelek’ atau tidak disukai. Saya pernah punya murid yang sempat kesulitan memakai sepatu Velcro, tapi guru-gurunya menyemangati dengan, “Ga apa-apa, kan masih belajar. Kalau belajar terus, nanti bisa.”
    5. Beri anak kesempatan untuk mencoba sendiri. Kembali lagi ke poin 2 tadi, diarahkan tapi tidak selalu harus dibantu. Atau anak dibantu sedikit di awal tapi ia sendiri yang menyelesaikan. Dengan demikian, anak juga belajar bahwa ia perlu berusaha dulu, karena sekarang umurnya juga sudah semakin besar dan ia sudah belajar
    6. Di akhir kegiatan belajar mandiri, ajak anak untuk me-review tugas yang dilakukannya tadi. Kalau belum berhasil, tidak apa-apa untuk ‘mengakui’nya. “Masih agak susah ya kancingin bajunya? Tapi udah bisa masukin tangan sendiri nih, hebat! Nanti kita coba lagi ya kancingin baju.” Apalagi kalau anak tetap berusaha walaupun tugasnya sulit baginya. Satu lagi, yang pasti siapkan stok sabar yang banyak yang Bun, insya Allah nanti hasilnya sepadan

    Untuk selanjutnya, kita diskusi aja ya. Yang punya contoh skill kemandirian yang sudah berhasil diajarkan ke anak juga silakan banget dibagi di sini

    Tanya Jawab
    1. Saya Sari. Anak saya usia 4th. Sebenarnya dia sudah bisa makan dan pakai baju sendiri. Tapi lebih sering minta disuapin atau dipakein baju. Kadang Sewaktu2 saya ingin dia juga bersemangat untuk mandiri. Bagaimana ya mb cara yang efektif padahal sdh sering dibacakan buku aku bisa pakai baju sendiri. Kadang juga nonton filmnya di youtube. Terimakasih
      Jawab:
      Saya juga baru belajar setelah terjun langsung ngajar anak2 cimit2 3-4 tahun bin, kalau ternyata "tahu/bisa" dan "langsung mau praktik" itu ga selalu sinkron.  Untuk anak yg bisa pakai baju sendiri tapi masih sering minta dibantu, berarti dari pihak orangtua/pengasuh utama yang perlu lebih dulu "tega" melepas anak. Saya sendiri lebih sering mengingatkan anak, "Kalau sudah bisa makan sendiri kan berarti sudah besar, sudah hebat, kan. Kalau sudah bisa sendiri, masa masih harus disuapin?" Karena "ga bisa" dan "ga mau" itu berbeda. Sekali dibantu, lain kali minta dibantu lagi. Bukannya orangtua jadi "jahat", tapi ibaratnya mengajari anak naik sepeda, anak tidak akan bisa mengandalkan diri sendiri kalau sepedanya masih terus dipegangi kan...
      Kalau anak punya saudara, bisa juga diajak lomba, siapa dulu ya yang lebih cepat habis makanannya. Eh tapi jangan ngebut2 juga ya..  Atau ibu makan bersama anak. Sambil mengobrol, makan juga jalan, anak diajak menyendok makanannya satu-satu.
      Untuk memakai baju juga begitu. Beri anak batas waktu, berapa lama utk pakai baju. "Ayo, mama tunggu di luar ya. 10 menit aja pakai bajunya." Kalau pakai sepatu saat mau berbaris keluar, murid2 saya juga diberi waktu yang cukup. Ada anak yg lamaaaa sekali pakai sepatu karena minta dibantu, padahal dia bisa pakai sendiri. Kalau teman2nya sudah banyak yg selesai, saya beri waktu sebanyak hitungan sampai 10, atau kalau belum selesai juga ditambah 10 hitungan lagi. Sambil disemangati, "ayo, ayo, pasti bisa!" Jadi lebih cepat deh karena ga mau ditinggal *bu gurunya rada 'tega'
      Apa pernah dicoba anak dibiarkan sama makanannya, ga disuapin, selama 10 menit aja? Murid saya juga ada beberapa yg nangis gerung2 heboh kalau keinginannya ga dituruti (karena udah ada aturannya dan dia juga tahu). 5 menit, udahan nangisnya. "Disuruh apa? Makan kan...bisa sendiri kan. Perlu pakai nangis ga? Kalau nangis makannya selesai ga? Ayo coba, satu suap dulu sendiri. Pasti bisa." Anak 4 tahun sudah bisa mengerti kata2 itu bun. Mereka dgn sadar pakai strategi "nangis" kalau mau "memaksa" kok..Memang kitanya yg perlu tegas tapi tetap "cool"
      Dari interaksi dgn anak di situasi2 seperti itu, saya juga belajar kalau selalu ada ruang buat anak untuk berkembang, asal orang dewasa di sekitarnya mau kasih kesempatan.
      Kenapa anak nangis? Alasannya beda2. Tapi dlm situasi ini, nangis itu jadi "senjata" anak supaya keinginannya dituruti. Kalau dituruti? Lain kali dia nangis lagi kalau mau minta disuapi. Ga selesai-selesai dong. Untuk selanjutnya, justru siap2nya bisa sebelum makan ya. Anak dikasih waktu untuk "pemanasan" dulu. "Nanti kan kita mau makan. Kakak makan sendiri ya. Kan sudah besar, sudah hebat. Bisa kan? Ok?" Nah itu bun yang bisa dilakukan sambil dielus kepalanya dan dipeluk
      Kalau harusnya pakai baju tapi anak lari2, baiknya gimana? Ada yg mau kasih masukan?

      Saya pribadi tidak sarankan utk mengejar anak. Capek :D Dan anak juga malah akan berpikir tingkah lakunya baik-baik saja, kan nanti juga dikejar
      Kalau temenku sih ada yg mensiasati dikasih mainan yg bs bqin dia stay di kamar, misal stiker dinding..katanya lumayan bikin anaknya anteng sambil dipakaikan baju.. mgkn pelan2 smbil diksh tau "pakai baju kan cm sbntar kalau adek mau sabar, ga lari2, nnt hbs pakai baju baru main lagi.
      Saran saya, sebaiknya tiap keluarga punya "tempat khusus" utk makan BERSAMA. Ga harus ada ruang makan khusus dgn bangku khusus juga kalau blm ada, bisa kok dgn duduk ngeriung di lantai. Makan bersama2 dgn orgtua anak jd belajar banyak hal. Ga hanya belajar utk mandiri makan sendiri, tp juga orgtua sekalian bisa contohin adab makan. Misal, makan dgn membaca basmalah dan doa terlebih dahulu, makan dgn tangan kanan, makan sambil duduk, menganbil makanan dr yg jaraknya dekat, tdk "ngatain" makanan, dst
      dlm bbrpa hal orgtua mmg perlu "tega" menyikapi anak. Saya pernah "tega" membiarkan Kenzie nangis hingga 5 menitan. Saat itu udh waktunya tidur siang tp Kenzie msh blm mau udahan nonton lagu anak2 via HP. Sdh saya ingatkan berkali2 dgn kalimat "2 menit lagi abang udahan ya nontonnya. Abang perlu istirahat. Kita tidur siang ya Bang." dst. Tp karena Kenzie tetap ga mau udahan akhirnya HPnya saya ambil. So, nangis kejer anaknya minta HP lagi
       Tp, saya tetap ga kasih krna mmg sdh dikomunikasikan utk udahan dgn bilang "Abang,, abang nangis pun Bunda tetap ga akan kasih HPnya. Sekarang kita bobo yuk, Bang." kenzie tetap nangis. sampai kalimat.."Abang masih ingin menangis? Ya sudah abang nangis saja kalau masih ingin menangis, tp bunda bobo ya." Akhirnya, Kenzienya tidur sendiri karena kecapean nangis
      Ga tega sebenernya ngebiarin anak nangis. Tp, dgn men"tega"kan diri anak akan belajar bahwa nangis bukanlah senjata utk mendapatkan sesuatu.
      Kalau Bu Yeti bilang, saat kita melakukan aktivitas yg sdh bisa dilakukan anak (memanjakan anak) itu bisa saja sama dengan "melumpuhkan anak". Ini sedikit kutipan tulisan Beliau..
      Memanjakan anak, biasanya didasari oleh keinginan melindungi anak secara berlebihan dengan menghindarkan anak dari rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun emosional. Orangtua yang memanjakan seringkali tidak sanggup mendengarkan tangisan anaknya, tak tahan melihat anak yang kecewa dan sedih serta tak tahu cara menolak keinginan anak selain memenuhinya. Yang tidak disadari adalah pola asuh memanjakan ini, membuat anak menjadi "lumpuh" secara imajiner, sehingga anak tak mampu membantu dirinya sendiri. Ia punya tangan tapi terbiasa disuapi, ia punya kaki tapi terbiasa digendong, ia punya pikiran tapi tak diajak berpikir dan berdiskusi, ia punya hati tapi tak diajak untuk berempati.
      berarti "tegas"nya lagi yg perlu ditunjukkan ke anak ya. Ada murid yg suka sekali lari2 sendiri, padahal sudah tahu diminta menunggu karena kami sekelas akan jalan bareng2. Kalau dia mulai lari, saya akan panggil dia, tapi tidak dikejar. Anak2 ternyata ngecek loh, mereka dikejar atau tidak. Kalau orang dewasa mengejar, berarti mereka yg menang. Lalu mereka pikir, eh seru ya, main kejar2an. Nanti dicoba lagi ah...#nahloh  Karena saya tidak kejar dan mengingatkan, "tadi kamu diminta tunggu di mana? Dibolehin lari2 sendiri ga?", dia kembali sendiri ke tempat yg seharusnya. Mudah2an pengalaman saya membantu ya bun
      Kalau kata ahli modifikasi perilaku, untuk mengubah kebiasaan atau membentuk kebiasaan baru, caranya dgn dilakukan terus-menerus selama minimal 1-2 bulan bun, kalau bisa setiap hari. :) Kayak ngajarin anak sholat, sikat gigi, baca doa, dll, dari yg ga biasa sampai jadi kebiasaan kan.
    2. Apakah ada perbedaan emosional unt anak laki-laki dengan anak perempuan? Bunda Leli
      Jawab:
      Ini maksudnya perbedaan perkembangan emosi pada anak laki2 dan perempuan ya bun? Sebagian ahli bilang anak perempuan lebih cepat belajar untuk memahami emosi orang lain (terutama emosi sedih), sehingga lebih bisa berempati kepada orang lain. Makanya kalau anak perempuan punya adik bayi atau adik kecil, cenderung lebih "ngemong". Anak perempuan juga lebih banyak yang suka cerita tentang perasaannya. Tapi sekali lagi, belajar mengenal emosi itu sangat dipengaruhi oleh stimulasi dan contoh dari lingkungan. Ada kok anak-anak laki-laki yg peka sama kondisi emosi orangtua, saudara, dan temannya walaupun masih kecil, karena terbiasa diajak untuk bercerita sejak kecil.
      Yang saya sampaikan tentang orangtua bisa membantu anak untuk mengenali emosinya, paling banyak bisa dilakukan dengan berbicara langsung ke anak. Kalau ada anak nangis piluuuu banget waktu pisah sama ortunya di sekolah, saya ga selalu bilang "gapapa". Ternyata perlu juga untuk "mengakui" emosi anak saat itu, "kenapa nangis? Kamu sedih ya, mama pergi? Iya, kalau di sekolah mama ga boleh masuk ya, tunggunya di luar. Tapi nanti kita mau senang2, mau main sama teman2, terus nanti tau2 udah waktunya pulang deh. Ketemu mama lagi deh. Jadi ga apa-apa kan mama ga nemenin di kelas?" #duhjadipanjang
    3. Bagaimanakah mengatasi anak yang jika dilarang sesuatu anak menjadi tantrum. Misalnya, kalau dilarang tidak boleh jalan di jalanan karena banyak kendaraan lewat. Orangtua sudah bicara baik-baik, tapi tetap dilakukan. Saat ingin diajak pindah anak langsung ngambek dgn duduk kdg tiduran di jalan sehingga orangtua kadang terpaksa menggendongnya, salahkah?? Oia, saya juga pekerja, terkadang sudah lelah untuk mnemani anak main di luar karena pasti ngajak jalan2 dan jauh. Apakah berpengaruh ke psikologis anak serta hubungan sosialnya?
      Filan, Tangerang
      Jawab:
      Sejauh yang saya tahu tentang tantrum, penanganannya pakai prinsip "lebih cepat lebih baik". Anak kecil tantrumnya mungkin "cuma" nangis gerung2, teriak2, guling2 di lantai, lempar barang. Kalau sudah besar dan badannya juga tambah besar, tenaga anak juga bertambah banyak, jadi lebih sulit dikontrol, dan lebih berbahaya. Mungkin topik tantrum ini malah bisa jadi pembahasan tersendiri ya *request ke admin*
      Saya yakin best practice untuk tantrum tidak cuma 1 cara. Kalau saya sendiri, dalam menghadapi anak tantrum biasanya memakai strategi ini:
      - suara tegas. Memang "bicara baik2", tapi bukan dengan nada membujuk2. Entahlah, buat saya nada membujuk (apalagi kalau kelihatan banget desperate) kalah dengan tangisan anak
      - upayakan kontak mata dengan anak. Caranya dengan memegangi bahu atau tangan anak. Anak yg lebih kecil lebih mudah untuk di pegangi. Yang pertama, saya minta anak untuk dengar saya bicara. "Lihat sini. Dengar. Anak baik, anak besar, mau dengarkan bunda? Ok?" Kalau anak mulai memperhatikan, biasanya tangisan/teriakan/gerakannya berkurang atau berhenti
      - Tidak usah pedulikan tatapan mata orang lain. Yang penting adalah pesan sampai ke anak. Saya pribadi tidak suka bilang "malu ah diliatin orang". Mau orang lain bilang "kok anaknya ga didiemin sih" juga terserah, yang penting kan bicaranya sama anak, hehe. Dulu ada guru yang punya pengalaman anaknya tantrum di supermarket, dia bilang ke pengunjung yg lain, "maaf ya pak, bu, anak saya belum mau pindah. Lagi saya kasih waktu 5 menit. Lewat aja gapapa, saya nemenin dia kok."
      - beri anak waktu. Dengan belajar untuk stop tantrum, anak juga belajar meregulasi emosinya. Hitung sampai 10, atau ditambah 10 lagi, atau 1 menit, "mama tunggu kamu ya, sampai 10 cukup ya." Dengan tahu ada waktu yg diberi ortu untuk dia mengatur diri, anak ternyata bisa lebih cepat berhenti
      - kalau ubun2 mulai panas, tarik napas panjang dulu, dzikir dulu  Orangtua juga perlu mengatur emosi, bukan cuma anak2. Jadi bisa tetap berusaha tenang walaupun mungkin capek dan masih banyak urusan
      Mudah2an membantu ya. Yang lain ada yg mau berbagi juga pengalaman sukses menghadapi anak tantrum?
      Anaknya punya saudara kandung, sepupu yg bisa dikunjungi, atau tetangga yg sebaya? Kalau anak belum mulai masuk nursery school/playgroup/TK dan tidak di daycare, kesempatan anak utk ketemu anak2 lain bisa dibantu oleh orangtua dengan mengajak anak ketemu dengan orang2 di sekitarnya. Kalu ibunya ikut pengajian rutin atau gathering, anak2 lain juga bisa diajak, lalu disediakan tempat main. Setahu saya, di usia 2 tahunan anak secara sendirinya sudah mulai tertarik kalau melihat anak lain, apalagi kalau anak lain itu sedang melakukan sesuatu yng menarik
      Sebelum main, bisa dkasih tahu dulu mainnya akan berapa lama. Sampai jamnya ke angka yang ini ya, gitu. Jadi kalaupun tantrum, perpanjangannya juga ga lama, paling 5 menitan. Tantrum kan tanda penolakan anak. Kalau dia kaget dan ga siap tiba2 kegiatannya diganti, mungkin aja dia "protes" dengan menolak pindah tempat itu. Wajar kalau anak kecil merasa cemas dan takut kalau tiba2 rutinitasnya berubah atau tiba2 diajak ke tempat asing. Memang ada juga anak2 yg proses penyesuaian dirinya cepat di tempat baru, atau yg malah suka kalau pergi ke tempat baru. Tapi tiap anak kan unik, dan belajar dgn kecepatan masing2. Yg saya maksud utk kasih anak kesempatan utk belajar mengatur emosinya itu kira2 seperti itu, beri anak waktu utk siap2 dan mengontrol perilakunya sendiri. Mudah2an membantu ya.
    4. nenden di bandung
      mau tanya bagaimana yaa menyiasati anak yg ga suka dgn keramaian..setiap jalan ke tempat baru pasti minta di gendong.anak saya usianya 3.5thn..
      Jawab:
      "Ga suka" itu bisa berarti anak merasa takut, apalagi dia maunya digendong, seperti berusaha mencari rasa aman di tempat2 baru itu. Orang dewasa juga bisa banget bun merasa takut kalau ada di tempat baru. Artinya otak kita sedang "siaga" karena ada stimulus asing. Kalau di kelas saya, ada stiker yg bisa dipindah2 yg ditaruh di jam. Main sampai jarum yg panjang di angka berapa, ada stikernya. Jadi anak udah tahu dari awal sampai jam berapa waktu kegiatannya. Sebenarnya mirip dengan kejadian tantrum waktu tiba2 diminta stop bermain tadi. Sebelum pergi, ortu bisa sounding dulu, mau ke mana dan kapan. Di sekolah, setiap mau ada fieldtrip ke luar atau kegiatan baru yg di luar rutinitas, guru2 selalu sounding supaya anak punya waktu untuk siap2. Terutama utk anak yg memang mudah cemas kalau keluar dsri rutinitas. Misalnya kalau weekend ini mau ke acara kondangan dan anak akan diajak, dari 3 hari sebelumnya kasih tahu dulu ke anak, nanti hari sabtu, hari sabtu itu 3 hari dari sekarang, kita mau pergi ke....Nanti ada teman2 bunda, ada teman2 kamu juga, anak2 juga. Nanti berani kan jalan sendiri, ga usah digendong? Digandeng aja.
    5. Martini - Ciputat
      Anak sya usia 3y2m. Ketika ada temannya yang memukul, mendorong, menjambak rambutnya bahkan ada yg sampai menggigit, anak sya hanya bisa bilang "ihhh.., aku sakit sayaaangg...!!" Pernah berusaha untuk membalas tapi temannya jauh lbh tangkas. Jadi anak sya hanya bisa menangis berharap ada orang yg datang untuk menolongnya.
      Bagaimana u/ mengajarkan problem solving kpd anak saya? Bolehkah saya mengajarkan anak u/ bisa membalas kpd temannya? Krn lumayan klo smp ada yang luka/sakit.
      Jawab :
      Kejadiannya di mana bun? Di lingkungan rumah, playgroup/sekolah PAUD, atau tempat lain?Pertama, membalas tidak jadi solusi yg baik. Saya pernah punya murid yg "anteng", tidak pernah mulai pukul atau menyakiti temannya. Suatu hari, dia didorong teman dari kelas lain. Dia balas dorong. Tapi ibunya ajak dia bicara, dibilang, "Kalau ada yg dorong, atau pukul, ga usah dibalas. Bilang "aku ga suka, sakit kalau didorong". Bilang ke missnya. Tapi santai aja ya, ga usah dibalas." Apalagi kalau anak laki-laki, lebih beresiko utk balas dgn kekerasan fisik juga (anak perempuan cenderung lebih banyak bicaranya).
      Kalau boleh dikoreksi kalimatnya, lebih baik ajarkan anak dgn kalimat yg jelas, "jangan pukul! Aku ga suka, sakit." Kalau "iih sakit sayang", maknanya bisa jadi tidak dipahami anak lain yg menyakiti itu. Supaya keselamatan anak terjaga juga, ajarkan anak, kalau misalnya setelah dia bilang jangan pukul masih juga diganggu, dia bisa cari bantuan. Bukan menunggu bantuan ya bun...Menjauh dari teman yg mencoba menyakiti, main agak jauh. "Aku ga mau main sama2 kalau kamu pukul." Itu bisa jadi cara anak untuk menyampaiu dia mengalami emosi negatif dari perilaku temannya itu (takut, ga suka, marah, sedih). Lalu, anak perlu diajarkan utk cari orang dewasa di sekitar situ, dan minta bantuan. Misalnya, "Aku lagi main, dicubit sama dia."
      -Ehh ga boleh bales ya :D Aku ngajarin Kenzie "ga boleh pukul duluan, tp kalau dipukul Abang boleh pilih pukul kembali atau maafkan."
       ini jawabanku ngikutin konteks hadits yg intinya "jika disakiti org lain boleh balas dgn perlakuan yg sama, tp memaafkan lbh baik bagimu."
      Diajarkan kadang dgn "membalas" bisa utk anak belajar perlindungan diri juga. Anak zaman skrg kalo udh mukul habisnya ekstreem sih, kan kasian anakku dipukulin
      -Lebih gampang pukul balik daripada maafin kan rah? Kalau dibandingkan dgn urusan2 yg bakal dihadapi anak di masa depan, masalah didorong atau dipukul teman itu jadi masalah yg "kecil". Kalu terbiasa membalas, saya sendiri khawatir anak juga jadi biasa punya pikiran "biar dia rasain juga", alias mendendam. Dan kalau membalas, pihak lain jadi sakit juga kan. Maksudnya memang membalas perbuatan yg tidak menyenangkan/ tidak adil, tapi nanti jadi balas-balasan, ujungnya tangis-tangisan. Kalau sudah SMA, kasus ekstrimnya apa? Tawuran.
      Hiii, maaf ya serem Tapi anak yg diajari utk berkasih sayang dan memaafkan sejak kecil, akan lebih baik juga perkembangan keterampilan sosialnya.
      Kalau mainan, makanan, atau benda lain punya anak direbut atau dirusak orang lain, anak berhak kok minta dikembaliin/diganti. Itu haknya, jadi dia berhak cari keadilan. Tapi sampai sana aja ya :) Kalau balas pukul, krn msh anak2 mrka blm pham kpn wktnya boleh pukul. Mereka tahunya trnyta memukul itu boleh ya.
      -Iya betuuul . Dan ujung2nya salah satu pihak nangis. Btw, Kenzie seriiing bgt "gengsi" kalau dipinta utk minta maaf setelah pukul org. Padahal aku n ayahnya sdh sering contohin minta maaf tiap kali salah n bilang kalau minta maaf itu anak yg pemberani. Gmna ya tips2nya spya anak ga gengsi utk minta maaf Ki?
      -Minta maaf kan tujuannya utk rekonsiliasi (memperbaiki hubungan). Murid saya dulu ada yg gengsi minta maaf. Anak laki-laki juga. Yang paling penting, anak tahu salahnya apa sehingga ia perlu minta maaf. "Tadi abang pukul adeknya. Adeknya sakit kan. Ayo minta maaf, supaya adeknya ga sedih lagi."
      - persis Kenzie. Kalimatku dan Ayahnya Kenzie juga kaya gitu Ki. Kita pasti kasih tahu karena apa Kenzie harus minta maaf. Yg ada kenzienya malah nangis dan bilang aku nakal. :D Biasanya aku n ayahnya kompakan "ngebiarinin Kenzie nangis" sampai dia minta maaf. Tp, krna seringkali ga berhasil, bbrpa hari ini kami punya teknik baru, yaitu : meredakan tangisnya dulu dgn mengalihkan perhatian ke hal2 yg dia suka. Setelah hatinya ceria kembali, alhamdulillah ga sampai 5 menit dia jd lbh mudah minta maaf.
      - Menurutku non-negotiable rah kalau situasinya dia yg salah dan harus minta maaf  nakal itu apa? Versi anak kecil, nakal itu kalau orang lain melakukan hal yg ga dia sukai. Bunda bukan nakal, bunda mengingatkan. Kalau belum minta maaf, maaf juga, anak belum bisa melakukan hal yg menyenangkan buat dia. Ditunda dulu kegiatan yg lain. Tahannya paling berapa menit, karena rasanya ga enak kalau ga bisa melakukan hal yg disukai Atau minimaaaal banget, di awal2 bunda yg bilang maaf ke anak tadi, tapi kenzie disuruh salaman sama anaknya. Kalau masih gengsi juga, ajak anak kasih sesuatu ke orang yg disakiti tadi. Kasih benda2 kecil aja dulu, permen, stiker, biskuit, atau apa yg ada. Atau pinjemin mainan yg disukai anak. Nanti juga ga akan selalu ada orang tua yg nyuruh dan ngingetin anak utk minta maaf kan...Suksesnya "training" itu kalau di tempat yg ga ada orangtua pun, anak tetap biasa utk minta maf kalau salah  #bicarasihgampang,hihi. kalau belum mau ya kasih waktu. Anaknya sendiri bisa mulai bikin keputusan, setelah dikasih waktu
      -Kasih waktu
      Iya ya, bener bgt Kikiiii. Kadang kami maunya bocil langsung minta maaf pascaperkara. Padahal org dewasa aja butuh waktu utk memaafkan ya #tsahh
      Makasih banyak Kiki dan Bunda2 hebat semua

      Berikut merupakan terapi anti pukul yang dilakukan Bunda Aisyah.
      Alhamdulillaah dlu sempet curhat dg mba kiki... jazakillaah y mb  kluar air mata bneran ini..
      Dlu ad saran mb kiki ttg dibuat poster brgambar anak2 yg memukul ad tnda emoticon sad lalu yg berteman & gmbar minta maaf emoticonnya smile.. itu sy kira akan efektif utk sounding k anak... hnya beeeluuum seeempaaat sy bikin posternya..
      Terapi anti pukul sy baru sederhana saja... terus disounding..
      "Zafran tdk boleh pukul, umi marah nanti lho"
      "Zafran dipukul itu sakit..." sambil sy elus2 badan yg kena pukul & sy pura2 nangis & trlihat sangat trluka & sy pura2 merengek utk dy mau minta maaf -> mksudnya sih supaya empatinya muncul qt brlagak kekanakan jg..  sy memposisikan diri sbg 'peer position'

      Lalu ktika sy minta dy utk minta maaf dy memang segan sambil malu ngelihat sy (suasana melunak)
      Kdg brhasil & kdg agak sulit
      Sy trmasuk yg ngotot utk ank mau minta maaf...
      Klau buat slah tdk bole mnghindar dr minta maaf, tdk bole pura2 mslh sdh lewat.. dia tinggal sy aktivitas lain lalu ktika dy butuh sy & memanggil sy, sy tagih dlu "bilang maafnya mana?" Akhirnya mau jg bilang maaf krn kepepet butuh & biar bs baikan sama umi lagi.
      Prnh dy brkelit bilang "maa.." sy tnggu2 tnyta sngja diplesetin dilanjutkan bilang "eemm.." mksudnya maem bkn maaf. Sy nya senyum geli tp tetep nagih lagi akhirnya dia bilang "maaf mi.."

      Oya yg pukul itu sy sounding sprti yg d atas, smbil sy tahan pegangi kdua tangan dy dg kdua tangan sy supaya mukul sy nya brhenti.. sy agak tegas sih ngomongnya.. supaya dia tahu uminya SERIUS... dia tahunya hnya utk snang2 dia saja soalnya.. bkn memukul utk membela diri..

      Sy prnh peragakan angkat tangan sy sambil sy bilang... "maaf, zafran kalau umi pukul mau?" Hehe... tegaaaa yaa  gemes sy soalnya, digitukan aj dia lgsg nangis.. pdhl sy blm apa2.. ini sbnrnya jg ga bole yah bun.. mkanya sy kepepet bgt wkt itu.. sy lanjutkan "ga mau kan? Krn klau dipukul itu sakit.." "umi gak mau, zafran jg gak mau, abi jg gak mau"

      "Zafran kn anak sholeh, anak pintar, tdk boleh pukul.."
      Bgitu tangannya terangkat refleks mau pukul lgsg sy tangkap (lama2 sy lihai nangkap gelagatnya klau mau mukul) sambil sy pelototin dg bhsa tubuh lhoo kn g bole mukul ya.. kn dy g sadar tu awalnya lalu wkt tngan dy sy pegang, dy baru ingat lg oyaa g bole pukul,

      Bgitu terus.. slma brminggu2, kurleb 1 bln stgh kyaknya bs brhasil signifikan...
      Brhasilnya pun krn faktor pemicu jg lg g ad.. tau deh tar sepupu2 dia (3th&2th) pas main bs aj kambuh (smoga tdk)..
      Aplagi yg sepupu usia 2th.. bs dy duluan yg mukul k ank sy drpd anak sy yg mukul k yg lbh kcil.. yg sepupu usia 3 th itu sdh bs mngendalikan diri.. g mukul anak sy.. tp korban pemukulan anak sy >.< trus sy yg mwakili ank minta maaf k keponakan klau ank g jg minta maaf, dg sy minta maaf k keponakan sy, ponakan sy bs ayem atinya.. kyaknya susah bs diilangin spnuhnya.. misal akhirnya jd 'alim' gt ya hehe... paling diminimalisir.. smpai kedewasaannya muncul... sprti ponakan sy yg usia 3 th itu dy awalnya suka mukulin anak sy skrg baru dy ngeh tnyta mukul itu g boleh.. dn sy rasa dy lupa kalau dia dulu suka mukulin anak sy dluan...

      Maaf ini penjelasannya agak ribet.. klau ad yg slah dari sy tolong diluruskan/koreksi sama2 y..
      Skrg pun sy msh tetap sounding, supaya g kambuh lg "zafran anak sholih tdk mukul umi, tdk mukul abi, tdk mukul teman2 d skolah (daycare), sayang sama semuanya, berbagi.. main bareng,dst..." Alhamdulillaah anak sy sdh kdg mau spontan bilang maaf ktika dy slah.. kdg msh diminta (diingatkan) dlu baru minta maaf, kdng usil dy sngja malas bilang minta maaf... #tepok jidat.. yg penting sdh mulai mengakhlak... amiiin

    Materi perkembangan psikososial anak 2-4 tahun dari saya udah selesai ya. Mudah2an bermanfaat, dan kalau ada yg salah atau mau dikoreksi, silakan banget 

  2. 0 komentar:

    Posting Komentar